anak malas bergerakMungkin Anda sering melihat anak yang sangat aktif bergerak ketika sedang berada di Edutainment Park in Jakarta. Namun, ternyata tidak semua anak seperti itu. Ada cukup banyak juga anak yang cenderung pasif dan lebih suka berdiam diri di rumah daripada diajak bepergian. Tentunya hal ini cukup menyedihkan karena kebiasaan malas bergerak bisa berdampak buruk bagi anak jika tidak segera diatasi.

Salah satu dampak yang pastinya sudah Anda ketahui ada obesitas. Sebab, ketika anak pasif dan makanan terus masuk ke tubuhnya, akan terjadi penumpukkan kalori. Namun ternyata, dampak dari kebiasaan ini tidak hanya itu saja, loh! Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh University of British Columbia, anak yang malas bergerak cenderung memiliki tulang yang rapuh jika dibandingkan dengan anak yang aktif bergerakk. Menurut para peneliti, anak dengan kebiasaan ini memiliki risiko tinggi mengalami patah tulang karena tulang tidak terlaltih untuk menguatkan dirinya.

Studi ini melibatkan 309 anak yang dipantau sejak usia 10 tahun hingga 16 tahun. Rentang usia tersebut dipilih karena 36 persen dari kerangka manusia terbentuk pada usia tersebut. Untuk hal yang diteliti sendiri adalah aktivitas dan kekuatan tulang mereka menggunakan rontgen 3D dengan resolusi tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka yang melakukan aktivitas fisik setidaknya 60 menit per hari, baik itu olahraga atau kegiatan di luar rumah, memiliki tulang yang lebih besar dan juga kuat.

Kondisi tersebut tentu mengkhawatirkan karena masalah tulang yang terjadi akan terbawa hingga anak dewasa nanti. Anak akan berisiko mengalami osteoporosis dini yang akan memengaruhi aktivitasnya nanti. Belum lagi jika anak mengalami obesitas akibat hal ini, akan membuat anak berisiko menderita berbagai penyakit lain yang merupakan komplikasi dari obesitas. Selain itu, saat anak sudah obesitas, anak akan semakin malas untuk bergerak.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Anda sebagai orangtua harus mulai aktif untuk mengajak anak melakukan berbagai kegiatan. Tentunya, kegiatan tersebut haruslah yang menyenangkan sehingga tidak membuat anak merasa bosan. Misalnya, mengajak anak berwisata edukasi di Kidzania. Di sini, anak bisa mencoba aktivitas yang menuntut anak untuk aktif bergerak, misalnya profesi sebagai polisi yang akan berkeliling kota Kidzania untuk mengejar penjahat. Menarik, kan? (Vita)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: