kwPada umumnya sebagai manusia tentu kita tidak mudah untuk merasa puas akan suatu hal. Sebuah benda atau atribut tertentu memiliki nilai ‘pride’ sendiri yang memberikan kesan kepada pengguna dari produk tersebut. Pria maupun wanita memiliki kecenderungan akan keinginan terhadap suatu hal yang dapat dibanggakan. Tas pria original dan juga wanita, sepatu kulit kualitas nomor satu, bahkan hingga kepada produk sehari-hari menjadi suatu hal yang dibutuhkan sebagai sebuah kebanggaan.

Namun, ada kalanya pembelian produk yang dinilai sebagai hal yang berkualitas dapat di-‘ganti’ dengan produk lainnya. Fenomena pencetakan barang kloning atau palsu menjadi hal yang cukup luput dari perhatian. Orang cenderung menganggap barang kloning atau palsu tersebut sebagai ‘complementary’ dari produk asli tersebut. Bahkan proses penciptaan barang kloning atau palsu (biasanya disebut sebagai ‘barang KW’) itu hampir mencapai hasil sempurna. Tentunya fenomena barang asli ‘original’ menjadi hal yang selalu disandingkan pada zaman sekarang dengan barang ‘complementary tersebut dan semakin sulit untuk dibedakan. Bahkan pengguna dari barang palsu tersebut tidak sungkan untuk menggunakannya pada tempat publik yang dapat dikatakan terlihat secara jelas.

Pada dasarnya dengan menggunakan barang-barang palsu tersebut merupakan pelanggaran terhadap hak cipta dari produk asli. Secara seni, dengan hadirnya barang-barang palsu tersebut secara tidak langsung memberikan ‘tamparan’ bagi pencipta dari produk asli tersebut. Hal ini dianggap tidak menghargai karya seseorang yang melalui proses yang sangat besar dan pematangan karya yang tidak mudah.

Secara politik, persebaran barang-barang kualitas KW tersebut memberikan efek yang cukup merugikan bagi negara. Kerugian yang cukup besar dirasakan pada sektor ekonomi. Hal ini dikarenakan persebaran barang ilegal yang tidak ditanggung dengan pajak menimbulkan kerugian bagi pajak. Sebagai sisi pekerja tentu juga mengalami kerugian secara finansial. Produksi dari produk asli tersebut tidak mendapatkan penghasilan yang dapat membiayai upah bagi pekerjanya sesuai dengan beredarnya ‘produk’ tersebut. Maraknya pembelian barang palsu tentu membuat manusia atau konsumen lebih tertarik dengan kualitas yang sering dikatakan ‘sebelas-dua belas’. Imbas dari kejadian ini berpengaruh kepada berkurangnya minat pembeli barang asli.

Perlu kesadarn bagi benak diri sendiri untuk lebih menghargai keberadaan produk asli. Secara manusiawi tentu kita ingin untuk mendapatkan penghargaan dari hasil kerja keras sendiri. Dengan membeli produk asli atau orisinil tentu dapat memberikan kebanggaan atau penghargaan terhadap hasil karya dari seseorang. Tentunya dengan sikap kecil seperti itu saja dapat berdampak kepada berkurangnya kerugian yang dirasakaan dalam bidang perekonomian negara. (VK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *